Funky tapi Religius

28 December 2006

Ketika Kumulai Mencinta………

Filed under: Muhasabah - Anik Arrifai @ 4:23 pm

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu,
agar bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya
agar tidak melebihi cintaku padaMu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya
agar tidak berpaling pada hatiMu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalanMu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya
agar tidak lalai aku merindukan syurgaMu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasihMu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasihMu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepadaMu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasihMu,
jangan biarkan aku melampaui batas
sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepadaMu.

Ya, Allah izinkan hamba untuk senantiasa berada diantara hamba-hamba pilihanMu
yang ketika kulihat wajahnya mengingatkan aku pada keteduhan saat berjumpa denganMu,
ketika kudengar tangisnya mengingatkan aku pada sujud menghadapMu…

16 October 2006

Teruntuk Sahabatku…

Filed under: Muhasabah - Anik Arrifai @ 3:08 pm

Penulis: Ummu Habibah
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman
Sumber: www.muslimah.or.id

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Wahai sahabatku bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah engkau sudah mempersaksikan di hadapan seluruh makhluk dan malaikat yang menjunjung ‘Arsy yang agung dan malaikat seluruhnya bahwa engkau seorang muslim? Mempersaksikan bahwa Dia lah Robb yang agung, yang paling pedih azabnya sekaligus paling luas rahmatnya, sebagai Dzat yang satu-satunya berhak diberikan seluruh kecintaan, rasa takut dan harap dengan ketundukan dan penyerahan diri yang sempurna?

Sahabatku, sudahkah engkau bertekad hari ini untuk mengerjakan sunnah Rosululloh dengan benar dan ikhlas di atas syariat yang haq, yang tidak dinodai kebatilan syahwat dan syubhat yakni dengan cara mengikuti metode pemahaman dan pengamalan islam yang dilakukan oleh sahabat yang mustaqiim?

Sahabatmu menulis risalah ini saat hatinya sedang terbang melihat sahabatnya yang mencintai agama Allah… menginginkan kebaikan pada dirinya dan orang-orang yang disayanginya…
Sahabatmu menulis risalah ini mengharapkan agar sekiranya risalah ini menjadi batu perbaikan untuk meraih metode pemahaman dan pengamalan islam yang lurus dan meraih jalan kebaikan…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan niat –yang semoga Alloh meluruskannya- yang menginginkan kebaikan bagi engkau wahai sahabatku…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan harapan semoga melapangkan dada, menjernihkan akal dan bisa diterima oleh hati…
Sahabatmu menulis risalah ini agar ilmu menjadi bersinar dan tersebar… dan menjadi pembuka menuju jalan ke jannah-Nya…
Sahabatmu menulis risalah ini dan sangat mengharapkan persatuan kata dalam satu shaf yang sama, bersama-sama menapaki atsar Rosullulloh dan sahabatnya dan meraih beribu-ribu keindahan iman yang dicapai tholabul ‘ilmi…
Sahabatmu menulis risalah ini dan dia yakin dengan pasti dan tanpa ragu didalamnya ada kesalahan dan kekurangan… karenanya dia memohon ampun kepada Alloh dan memohon maaf kepadamu sahabatku…

Tausiyah Untukku dan Untukmu

Sahabatku, bacalah apa yang Allah firmankan padamu…

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadillah: 11)

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28)

Sahabatku, ingatlah pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepadamu…

“Barangsiapa yang Allah menghendaki suatu kebaikan pada dirinya maka Dia memberinya pemahaman dalam masalah dien.” (HR. Bukhori Muslim)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi termasuk pula semut di dalam liangnya, termasuk pula ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmidzi)

“Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah ialah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang gemintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah para pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu itu, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

“Sesungguhnya para malaikat benar-benar mengepakkan sayap-sayapnya pada orang-orang yang mencari ilmu, karena ridho terhadap apa yang dicarinya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

“Barang siapa meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang didatangi kematian pada saat dia sedang mencari ilmu, yang dengan ilmu itu dia hendak menghidupkan islam, maka antara dirinya dan para nabi hanya ada satu derajat di surga.” (HR. Ath-Thabrani)

Ketahuilah sahabatku… hukum mencari ilmu dien adalah wajib. Rosululloh bersabda, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketahuilah sahabatku… diantara semua ilmu ada ilmu yang terpuji dan ada ilmu yang tercela. Dan di antara ilmu yang terpuji ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah. Ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain adalah ilmu yang dengannya engkau dapat mengenal Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap gerak-gerikmu, ucapanmu, perbuatanmu yang kau tampakkan maupun yang ada di dalam hatimu. Sedangkan ilmu yang termasuk fardhu kifayah adalah setiap ilmu yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup di dunia seperti ilmu kedokteran dan farmasi.

Maka ilmu yang fardhu ‘ain wajib untuk dicari oleh setiap muslim sedangkan ilmu yang fardhu kifayah adalah wajib untuk dicari oleh seorang muslim, namun apabila sudah dikerjakan oleh sebagian muslim maka gugur kewajiban yang lain.

Ketahuilah sahabatku… jadilah salah seorang diantara dua jenis manusia. Pertama jadilah orang yang sibuk dengan dirimu sendiri dengan hal yang fardhu ‘ain. Kedua setelah selesai dengan kesibukan diri sendiri berilah manfaat pada orang lain dengan hal yang fardhu kifayah. Jangan menjadi orang yang hanya sibuk memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri sendiri. Perhatikanlah hati dan amalanmu. Jika engkau belum bisa menata diri sendiri dan hatimu, maka janganlah engkau menyibukkan diri dengan yang fardhu kifayah sebab orang lain telah banyak yang mengamalkan ilmu ini. Orang yang hendak mencelakakan dirinya sendiri dengan memperbaiki keadaan orang lain adalah orang yang bodoh. Perumpamaan dirinya seperti orang yang di dalam pakaiannya tersusupi kalajengking, lalu dia mengendap-endap untuk menghalau seekor lalat agar tidak hinggap di tubuh orang lain di sampingnya.

Jika engkau sudah bisa menata diri sendiri, engkau boleh menyibukkan diri dengan ilmu yang fardhu kifayah. Mulailah mencari ilmu dari Kitabullah dan Sunnah baru engkau mendalami ilmu yang lain. Janganlah engkau menghabiskan umurmu dalam satu jenis ilmu karena ingin mendapatkan predikat spesialisasi. Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak sementara umur manusia sangat terbatas. Maka pilihlah ilmu yang paling bermanfaat bagimu yang dengannya engkau bisa meraih ridho Allah.

Sahabatmu ini pernah mendapatkan nasihat, “Sempatkan waktumu menemui majelis-majelis ta’lim yang lurus aqidah, akhlaq dan manhajnya sekalipun harus menempuh jalan yang jauh dan sulit. Sempatkan hatimu untuk menerima belaian dan makanan berupa ilmu. Ingat dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu bagi hati bagaikan air bagi ikan. Apa jadinya ikan tanpa air? Lalu apa jadinya hati tanpa ilmu?”

Namun sahabatmu ini sibuk sekali dengan urusan dunia dan prestasi, menganggap bahwa dunia sudah cukup untuk menepis musibah dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan datang lalu pergi dan hatinya terasa begitu kering. Musibah datang silih berganti dan membuat hatinya semakin kering hingga sahabatmu ini mendapat nasehat lagi…

Zuunuun rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai saudaraku berdirilah di hadapan tuhanmu seperti anak kecil di hadapan ibunya. Setiap kali ia dipukul oleh ibunya, ia malah bergerak ke arahnya dan setiap kali ia diusir ia malah mendekatinya. Keadaannya tetap seperti itu sampai sang ibu mendekapnya.”

Sabarlah jika engkau sedang ditimpa musibah, berdoalah kepada Allah agar semua itu bisa mengurangi dan menghapus dosa-dosamu. Kembalilah pada Allah dan carilah solusi dari Rosulullah. Sesungguhnya dalam Islam terdapat solusi bagi seluruh permasalahan. Dan cukupkan dirimu dengan solusi yang Allah dan Rosul-Nya berikan. Karena Allah lah yang Maha Bijaksana, menentukan yang terbaik bagi hambaNya. Dan memang, solusi terbaik atas seluruh urusan adalah islam, agama yang sempurna dan indah dari segala segi. Kebahagiaan hakiki ada pada Islam.

Sahabatku… bersabarlah untuk terus melangkah menggapai manisnya iman. Kita tidak akan pernah tahu, kapan umur kita pupus. Maka manfaatkanlah waktu untuk bersegera merajut manfaat dalam ridho Allah. Perjalanan sungguh amat jauh dan berat karenanya perlu bekal yang banyak agar kita tidak merugi. Dan kumpulkan bekal itu sekarang karena kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Bahkan sampai besok pagi pun kita tidak tahu apakah kita masih hidup.

Kelak di akherat, Robb kita tidak akan menanyakan: Bagaimana duniamu? Apakah orang tuamu kau bahagiakan dengan duniamu?

Tidak, sama sekali tidak…
Justru Robb kita akan bertanya: Untuk apa masa mudamu kau gunakan? Dan semoga saat itu walidain kita akan bangga dengan kesholehan anaknya, bukan dengan hal-hal yang dibanggakan di dunia tapi hakikatnya menjadi tamparan yang amat menyakitkan bagi mereka di akherat. Manakah yang engkau ridho atasnya sahabatku?

Jangan tertipu oleh alasan-alasan maya yang dibisikkan syaithon untuk membenarkan yang salah, menghalalkan yang haram dan menyamarkan hal-hal yang jelas.

Sahabatku… tentulah kita semua tahu bahwa terbukanya pintu taubat adalah hingga ditariknya nyawa sampai tenggorokan. Setelah itu tertutuplah pintu taubat untuk selamanya dan tak berguna lagi penyesalan sesudah itu. Tapi sahabatku, tak seorang pun tahu kapan kematian menjemput, kapan pintu taubat ditutup, apakah tahun depan, bulan depan, malam ini atau setelah beranjak dari tempat ini?? Tak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya hingga begitu banyak manusia meremehkan bersegera dalam bertaubat dan dalam keadaan merasa aman dengan ilmu, amal, dan agama yang ia miliki sekarang. Padahal barangsiapa yang merasa aman dengan agamanya maka Allah mencabut agamanya pada saat itu juga.

Sahabatmu ini hanya bisa berdoa semoga dalam kesendirian kita masing-masing kita tetap bersemangat berpegang teguh terhadap al-haq, tetap istiqomah, menjunjung nilai-nilai sunnah dalam setiap tingkah, langkah, menit dan detik kita. Kita berlindung kepada Allah dari fitnahnya dunia dan segala perhiasannya. Semoga kita diselamatkan dari tipu daya dan bisikan syaithon yang melalaikan kita dari mengingat agungnya akherat.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kita sudah mengetahui maknanya. Lalu kapankah kita mengamalkan?

Risalah ini hanya sekadar mengingatkanmu sahabatku, sesungguhnya ilmu yang kita pelajari di kampus bermanfaat. Tidak ada yang melarang kita untuk mempelajarinya, bahkan sangat dianjurkan demi kemaslahatan umat Islam. Apalagi jika kita belajar untuk birul waliddain, tentu pahalanya akan lebih berlipat lagi. Tapi sekali lagi sahabatku, tentu engkau sudah mampu mempertimbangkan manakah yang seharusnya lebih didahulukan, bahwa ilmu yang kita pelajari hukumnya fardhu kifayah dan butuh ilmu yang fardhu ‘ain sebagai landasannya. Sahabatku, engkau sudah dewasa dan engkaulah yang berhak menentukan jalan yang akan engkau tempuh. Sahabatmu ini sekedar menyampaikan ilmu yang sudah sampai padanya. Karena sahabatmu ini sangat menyayangimu karena Allah dan berharap kelak bertemu denganmu di surgaNya dan masih bersamamu ketika menuai ridho-Nya dan memandang wajah-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dari sahabatmu…

15 October 2006

Hati yang lupa berzikrullah lebih keras daripada batu

Filed under: Muhasabah - Anik Arrifai @ 4:59 pm

Oleh: DR. ZULKIFLI MOHAMAD AL-BAKRI

SYEIKH as-Sya’rawi berkata dalam tafsirnya: Kenapa Allah menyebut hati dan menyifatkannya dengan keras, di samping tidak menyebut berkenaan jiwa atau nafsu?

Ini kerana hati merupakan tempat yang lembut, rahmat, kasih sayang dan lain-lain. Apabila kita mengisi hati kita dengan banyak zikrullah, nescaya ia memenuhi rahmat dan kasih sayang.

Hati merupakan anggota yang menentukan segala permasalahan hidup. Jika ia dimakmurkan dengan keyakinan dan iman, sudah tentu segala anggota akan mengikut dengan penuh keimanan. Untuk kita melihat betapa kuat, kuasa dan luasnya hati dengan keimanan, Allah Taala menjelaskannya dalam Surah az-Zumar ayat 23 yang bermaksud:

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik iaitu al-Quran yang serupa (nilai ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gementar kerananya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka pada waktu mengingati

Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjukkan siapa yang yang dikehendaki-Nya. Dan sesiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.

Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya:

Ketahuilah bahawa pada jasad terdapat segumpal darah, apabila elok nescaya eloklah seluruh jasad dan apabila rosak, maka rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahawa itulah hati.

Kalaulah begitu, hati merupakan tempat cahaya keyakinan dan keimanan. Sebagaimana iman boleh bertapak dalam hati, begitu juga kekerasan dan kekufuran juga boleh bertapak dalam hati. Hati yang lupa untuk berzikrullah akan menjadi keras, kenapa? Ini kerana ia beriktikad bahawa tiada di sana kecuali kehidupan dunia sahaja dan maddi

(kebendaan).

Justeru, ia cuba mendapatkannya semampu mungkin dan dengan apa cara sekalipun sehingga melangkaui hak-hak dengan melakukan kezaliman, kerosakan dan mengambil hak mereka yang daif. Inilah puncanya.

KEMUDIAN SESUDAH ITU, HATI KAMU JUGA MENJADI KERAS SEPERTI BATU, BAHKAN LEBIH KERAS LAGI. PADAHAL DI ANTARA BATU-BATU ITU ADA YANG TERPANCAR DAN MENGALIR AIR SUNGAI DARIPADANYA; DAN ADA PULA DI ANTARANYA YANG PECAH-PECAH TERBELAH LALU KELUAR MATA AIR DARIPADANYA; DAN ADA JUGA DI ANTARANYA YANG JATUH KE BAWAH KERANA TAKUT KEPADA ALLAH; SEDANGKAN ALLAH TIDAK SEKALI-KALI LALAI DARIPADA APA YANG KAMU KERJAKAN. (Surah al-Baqarah ayat 74)

Firman Allah Taala: Kemudian sesudah itu, hati kamu juga menjadi keras sehingga kamu tidak dapat menerima sebarang peringatan dan tazkirah selepas melihat mukjizat yang nyata lagi terang.

Abu al-Laith meriwayatkan dengan sanadnya daripada Abu Darda’ r.a. bahawa dia mendengar Salman al-Farisi r.a. mahu membeli seorang hamba sebagai khadam, lantas beliau menulis surat kepada Salman. Di antara isinya:

"Wahai saudaraku, gunakanlah masa hidupmu untuk kepentingan ibadat sebelum tiba bala yang menyebabkan kamu tidak dapat beribadat, dan gunakanlah kesempatanmu untuk mendapat berkat doa daripada orang yang menderita bala, dan rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berikan makanan kepadanya supaya lembut hatimu dan terlaksana hajatmu.

"Wahai saudaraku, saya pernah menyaksikan ketika Nabi s.a.w. didatangi seseorang yang mengeluh kerana berasa keras hatinya, maka sabda Nabi s.a.w.: ‘Adakah kamu mahu supaya hatimu menjadi lembut dan diperkenankan hajatmu?’ Jawabnya: ‘Ya.’ Sabda Nabi s.a.w.: ‘Rahmatilah anak yatim dan usaplah kepalanya, dan berikanlah makanan kepadanya, nescaya akan lembut hatimu dan tercapai hajatmu.’

"Saudaraku, jadikan masjid seperti rumahmu, kerana sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Masjid-masjid itu sebagai rumah orang-orang bertaqwa, dan Allah telah menjamin orang-orang yang menjadikan masjid itu seperti rumahnya dengan kelapangan hati, kesenangan, kepuasan serta mudah menyeberangi titian sirat dan selamat daripada api neraka dan segera menuju keredhaan Allah Taala."

Demikianlah iktibar yang dapat diambil daripada tulisan Abu Darda’ kepada sahabatnya tentang betapa isu keras hati menjadi perkara utama dibahaskan oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat.

Seperti batu bahkan lebih keras lagi: Sebahagian hati sama seperti batu dan sebahagian yang lain lebih keras daripada batu seperti besi. Ini kerana di antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir air sungai daripadanya; yang begitu banyak air dan ada pula di antaranya yang pecah-pecah terbelah, lalu keluar mata air daripadanya; dan daripada batu yang pecah kerana takut kepada kebesaran Allah sehingga keluar air.

Syeikh an-Nasafi dalam tafsirnya, Madarik at-Tanzil, berkata: "Bahawa ia merupakan penerangan betapa kerasnya hati mereka berbanding batu. Kerana batu yang pejal tersebut boleh mengeluarkan air yang banyak, sedangkan hati akan menjadi gersang dan kering.

"Di samping itu, sebahagian batu gugur dari puncak gunung semata-mata kerana berasa takut dan gerun kepada Allah.

"Ia sentiasa mengikut fitrah Allah, sedangkan hati tidak tunduk dan patuh kepada segala yang diperintahkan."

Dan ada juga di antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah; ada yang jatuh dari gunung-ganang kerana takut kepada Allah, sedangkan kamu wahai Yahudi tidak memberi kesan dan tidak takut kepada Allah: Ia sebagaimana firman Allah Taala dalam Surah al-Hasyr ayat 21 yang bermaksud:

Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan. Dan pasti Allah membalasnya pada Hari Kiamat: Iaitu ingatlah bahawa Allah Taala tidak terlepas pandang sesuatu pun dan Maha Mengetahui atas setiap perbuatanmu dan pasti kamu bertemu dengan-Nya pada Hari Kiamat serta amat berhajat dengan segala rahmat dan keampunan-Nya.

Justeru, jangan sekali-kali menjadikan hatimu keras sehingga dibuang daripada mendapat rahmat Allah sebagaimana sunyi hatimu daripada zikrullah.

Sayid Qutub berkata: "Apabila hati mereka dibandingkan dengan batu, tiba-tiba hati mereka lebih kering dan lebih keras lagi daripada batu."

Batu yang dibandingkan dalam ayat ini ialah batu yang pernah diketahui mereka sebelum ini kerana mereka telah melihat batu yang mengalirkan dua belas mata air, dan mereka juga melihat batu-batu bukit bergegar apabila Allah bertajalli di bukit itu dan Musa a.s. rebah pengsan, tetapi hati mereka tidak juga lembut dan tidak juga melahirkan degup takut dan taqwa.

Hati mereka terus keras, pejal, kering dan kafir. Oleh sebab itulah al-Quran menyebut ancaman ini kepada mereka.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King