Funky tapi Religius

16 October 2006

Broken Heart

Filed under: Akhlaq - Anik Arrifai @ 3:11 pm

Penulis : Sri Mulyani

KotaSantri.com : Pernah ga seh ngrasain yang namanya Broken Heart atw heart breaking atw patah hati? Hii, hati gitu loh patah, gimana nyambungnya coba? Hehe.. Hmm, yang pasti seh ga enak banget deh (self experience neh. Hik.. Hik..). Tapi sepertinya seh banyak orang yang pernah mengalami hal ini, termasuk penulis getu??? Hahaha.. (Ga juga seh).

***

What is Broken Heart?

Apa seh patah hati itu? Apa bener hati itu bisa patah-patah (eh yang ada mah goyang patah-patah atuh. Hik..)? Atau bahkan hancur berkeping-keping? Kata Dewa seh ‘hancur hatiku mengenang dikau jadi keping-keping setelah kau pergi‘ Hehehe…

Pokoknya ya gitu deh, itu kan ungkapan klise aja yang menyatakan klo hati tuh kecewa berat, resah abis, gelisah tak menentu, yang membuat hidup serasa meaningless, hopeless, pokoknya yang less less gitu loh. Duh kan sayang hari gene harus ngrasain begini, tapi ya namanya perasaan kan who knows, datang tiba-tiba dan akhirnya… ‘Unbreak my heart say you love me again,‘ kata whitney Houstan. Dan kata Novia, ‘haruskah ku mengemis cinta untuk menghilangkan duka,‘ Hahaha.. Gitu amat yah.

***

Causes and Effects

Apa seh yang membuat orang being broken heart? Banyak orang mungkin mengira klo patah hati tuh hanya karena C I N T A. Hmm… Padahal ga juga loh, bisa juga karena obsesi yang ga kesampaian, atau cita-cita yang kandas di tengah jalan, dsb. Tapi mang seh yang lebih dominan broken Heart ini lebih mengarah pada keinginan atau obsesi yang berhubungan dengan LOVE (Upssst what love is all about???), karena kata orang seh yang namanya Love itu sangat dahsyat (katanya loh, hahaha).

Nah… Gimana klo ternyata love-nya ga kesampaian? Bisa jadi ketika dah ta’aruf ga disetujui ortu, atau bahkan ketika rasa suka itu datang tiba-tiba pada sseorang, sedang seseorang itu dah ada yang punya. Duh, kecewa ga seh (biasa aja lage, hehehe)?

Itulah klo urusan hati, sedikit saja kecewa bisa jadi resah, gelisah, dan tanpa arah. Akhirnya hati pun menjadi patah dan ah.. ah.. ah.. Hingga membuat kita jadi malas untuk melakukan sesuatu, maunya cuma bengong and merenung (bagi yang belom ngalamin jangan ngremehin loh, ntar kena baru tau rasa!!!).

Tapi ini sangat manusiawi, aku yakin semua orang pernah mengalami kecewa dan sakit hati. Cuma kadar dan cara mengkondisikannya aja yang berbeda hingga ada yang sampai patah hati dan ada yang merasa tak perlu patah hati.

***

Solution

1. Life Must Go On, No Matter What
            Satu hal yang harus sangat kita sadari adalah apapun yang terjadi, hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa patah hati. Artinya, kondisi seperti apapun yang kita alami, yah harus kita hadapi, karena kita ga mungkin lari dari kenyataan. Semua untuk dihadapi, bukan tuk dihindari. Dan ingat!!! Selama kita hidup, harus siap dengan segala macam realita yang ada, karena kadang kita ga bisa memilih ketika kondisi yang menyakitkan itu datang, yang mungkin sebagai ujian atau cobaan iman. Maka harus kita camkan dalam hati, hanya kematian yang membuat hidup ini berhenti, karena itu kita hanya punya dua pilihan, membawanya lebih baik atau membuatnya lebih buruk. Akan kita apakan hidup ini??

2. Keep Moving and Keep Struggling
            Mang suatu hal yang sangat berat, ketika kita ngalamin yang namanya broken heart, hidup serasa hampa, tanpa semangat, dsb. Tapi kondisi ini jangan sampai membuat kita statis, karena statis means death, berhenti itu artinya mati. Klo kita tinggal diam dengan masalah yang kita hadapi, itu sama saja bunuh diri. So, jangan berhenti tuk cari solusi, dan yang paling utama pastinya dengan do’a. Mohon petunjuk padaNya. Tapi secara real kita harus berusaha sebisa mungkin tuk keluar dari masalah itu. Misalnya dengan mengkonsultasikan masalah itu dengan orang yang lebih berkompeten dan juga jangan berhenti dari aktivitasmu. Justru kesibukanmu akan sangat membantu mengobati sakit hatimu. Jangan sia-siakankan waktu luang, gunakan untuk kegiatan yang bermanfaat.

3. Jemput HidayahNya 
            Sebenernya orang yang taraf ketaqwaannya sudah tetap mungkin ga akan ngelamain hal-hal seperti ini, karena orang yang sudah punya prinsip ketaqwaan yang kuat akan segera mengkonter hal-hal yang meresahkan hatinya dengan mengembalikan pada prinsipnya, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Ini kan golongan orang-orang yang istimewa, yang takkan di resahkan hatinya karena hal-hal yang bersifat duniawi. Dan orang-orang seperti ini sudah mendapat hidayah dari Allah, sehingga dengan mudah bisa mengatasi hatinya (mudah-mudahan aku juga bisa ke tingkat itu suatu saat, aamiin). Tapi buat kita, upsst, maksudnya orang-orang sepertiku yang masih rendah taraf ketaqwaannya, harus berusaha keras untuk mengkonter hal ini dengan terus mendatangi majelis-majelis ilmu dan terus menerus berdo’a memohon hidayahNya. Karena sesungguhnya Dialah yang menggenggam hati kita, maka hanya padaNya kita serahkan, tentunya dengan ikhtiar juga.

4. Jangan Berputus Asa Mengharap PertolonganNya
            Mungkin pernah ngerasa, duh dah kering neh airmata tiap kali berdo’a, tapi kenapa yah tak kunjung juga menemukan solusi? Upsst, sabar dong, menurut Ustadz neh. Ehm, hati yang resah dan bermasalah itu adalah hati yang sakit, karena itu perlu di sembuhkan. Nah… Seperti halnya penyakit biasa, penyakit hati pun ada tingkatannya. Tentu saja cara penyembuhannya pun membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Semakin parah sakit yang di alami hati, maka akan membutuhkan waktu atau terapi yang semakin lama. Everything needs process. Jadi, jangan berharap sekali dua kali berdo’a, semua akan beres. Layaknya penyakit fisik, hati pun butuh terapi. So, jangan berputus asa untuk tetap berdo’a dan berusaha untuk keluar dari keterpurukanmu. Percayalah dunia takkan berhenti dengan sakit hatimu, dan keputusasaanmu hanya akan membuatmu lebih menderita. Jadi, YOU MUST SURVIVE. Allah menilai usaha kita bukan hasilnya.

Ok, bagi yang lagi broken (tapi bukan broken flat loh..), selamat mencoba… Sebenernya ini seh baru teori yang ditemukan penulis, hehehe. Mudah-mudahan sukses yah! Ya, namanya Thinker kan hanya menemukan ide (hik.. hik.. sok buanget neh), berhasil ngganya seh tergantung yang mengaplikasikannya. Upst, ini kata dosen Filsafat loh. Hehehe… Just Kidding.

Lead your life to be better by means of enjoying whatever comes into your days.

WAHAI MANUSIA LIHATLAH HATIMU!!

Filed under: Akhlaq - Anik Arrifai @ 2:45 pm

Penulis: Abu Sa’id Satria Buana (Santri Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ustadz Abu Sa’ad M.A.

Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati”. [*]

[*]
Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan hati.

Maka hati bagaikan raja yang menggerakkan tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatannya, jika hati tersebut adalah hati yang baik maka seluruh tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan hal-hal yang baik, adapun jika hatinya adalah hati yang buruk maka tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!!

Ketahuilah, hati ini merupakan penggerak bagi seluruh tubuh, ia merupakan poros untuk tercapainya segala sarana dalam terwujudnya perbuatan. Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan. Karena hati disifatkan dengan sifat kehidupan dan kematian, maka hati ini juga dibagi dalam tiga kriteria yakni hati yang mati, hati yang sakit dan hati yang sehat.

1. HATI YANG SEHAT
Yaitu hati yang selamat, hati yang bertauhid (mengesakan Alloh dalam setiap peribadatannya), di mana seseorang tidak akan selamat di hari akhirat nanti kecuali ia datang dengan membawa hati ini, Alloh berfirman dalam surat as-Syu’ara ayat 88-89 :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya)”. (QS Asy Syu’ara: 88-89)

Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum Rasul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh. Hati ini terbebas dari berhukum kepada hukum selain Alloh dan Rasul-Nya. Hati ini telah terikat kepada suatu ikatan yang kuat, yakni syariat agama yang Alloh turunkan. Sehingga hati ini menjadikan syariat sebagai panutan dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap mendahului Alloh dan Rasul-Nya, bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Hujurot: 1)

Pemilik hati yang sehat ini akan senantiasa dekat dengan Al Quran, ia senantiasa berinteraksi dengan Al Quran, ia senantiasa tenang, permasalahan apapun yang dihadapinya akan dihadapi dengan tegar, ia senantiasa bertawakal kepada-Nya karena ia mengetahui semua hal berasal dari Alloh dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Di manapun ia berada zikir kepada Alloh senantiasa terucap dari lisannya, jika disebut nama Alloh bergetarlah hatinya, jika dibacakan ayat-ayatNya maka bertambahlah imannya. Pemilik hati inilah seorang mukmin sejati, orang yang Alloh puji dalam Firman-Nya:

يُنَزِّلُ الْمَلآئِكَةَ بِالْرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُواْ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنَاْ فَاتَّقُونِ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allohlah mereka bertawakkal (berserah diri)”. (An-Nahl : 2-3)

2. HATI YANG MATI
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robbnya, ia tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, ia tidak menghadirkan setiap perbuatannya berdasarkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati ini senantiasa berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan dunia walaupun di dalamnya ada murka Alloh, akan tetapi hati ini tidak memperdulikan hal-hal tersebut, baginya yang terpenting adalah bagaimana ia bisa melimpahkan hawa nafsunya. Ia menghamba kepada selain Alloh, jika ia mencinta maka mencinta karena hawa nafsu, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsu. Alloh berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS Al Jaatsiyah: 23)

Pemilik hati ini jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran maka dirinya tidak tergetar, ia senantiasa ingin menjauh dari Al Quran, ia lebih senang mendengar suara-suara yang membuatnya lalai, ia lebih senang mendengar nyanyian, mendengar musik, mendengar suara-suara yang menggejolakkan hawa nafsunya. Pemilik hati ini senantiasa gelisah, ia tidak tahu harus kepada siapa ia menyandarkan dirinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berharap, ia tidak tahu kepada siapa ia meminta, kehidupannya terombang-ambing, ke mana saja angin bertiup ia akan mengikutinya, ke mana saja syahwat mengajaknya ia akan mengikutinya, wahai betapa menderitanya pemilik hati ini!.

3. HATI YANG SAKIT
Hati ini adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Hati ini akan mengikuti unsur kuat yang mempengaruhinya, terkadang hati ini cenderung kepada “kehidupan” dan terkadang cenderung kepada “penyakit”. Pada hati ini ada kecintaan kepada Alloh, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya. Akan tetapi pada hati ini juga terdapat kecintaan kepada syahwat, ketamakan, hawa nafsu, dengki, kesombongan dan sikap bangga diri.

Ia ada di antara dua penyeru, penyeru kepada Alloh, Rasul dan hari akhir dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab kepadanya.

Pemilik hati ini akan senantiasa berubah-ubah, terkadang ia berada dalam ketaatan dan kebaikan, terkadang ia berada dalam maksiat dan dosa. Amalannya senantiasa berubah sesuai dengan lingkungannya, jika lingkungannya baik maka ia berubah menjadi baik adapun jika lingkungannya buruk maka ia akan terseret pula kepada keburukan.

Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, tawadhu’, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.

Maka wahai kaum muslimin!, hendaknya kita menginterospeksi diri kita sendiri, termasuk dalam golongan yang manakah hati kita? apakah hati kita termasuk dalam hati yang sehat, hati yang sakit atau malah hati kita telah mati?. Maka renungkanlah Firman Alloh dalam surat Al-Kahfi ayat 49:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِراً وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً

“Dan diletakkanlah kitab (kitab amalan perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun” (QS Al Kahfy: 49)

Dan sebaliknya Firman-Nya dalam Surat Al-Kahfi ayat 29-30:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً أُوْلَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَاباً خُضْراً مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقاً

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah”. (QS Al Kahfy: 29-30)

Wahai zat yang membolak-bolakkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agamamu, wahai zat yang membolak-balikkan hati tuntunlah hati kami teguh di atas ketaatan kepada-Mu…

Tebarkan Salam

Filed under: Akhlaq - Anik Arrifai @ 2:38 pm

Penulis: Abu Yusuf Johan Lil Muttaqin (Alumni Ma’had Ilmi)

Syariat Islam yang sempurna mengajarkan kaum muslimin untuk selalu meningkatkan kecintaan terhadap saudara semuslim, merekatkan persaudaraan dan kasih sayang. Dan untuk mewujudkan hubungan persaudaraan dan kasih sayang ini, maka syariat Islam salah satunya memerintahkan untuk menyebarkan salam. Syiar Islam yang satu ini adalah termasuk syiar Islam yang sangat besar dan penting. Namun begitu, sekarang ini salam sering sekali ditinggalkan dan diganti dengan salam-salam yang lain, entah itu dengan good morning, selamat pagi, selamat siang, salam sejahtera atau sejenisnya. Tentunya seorang muslim tidak akan rela apabila syariat yang penuh berkah lagi manfaat ini kemudian diganti dengan ucapan-ucapan lain. Alloh berfirman,

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (Al Baqoroh: 61). Dan sungguh apa yang ditetapkan Alloh untuk manusia, itulah yang terbaik.

Perintah dari Alloh
Alloh berfirman,

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An Nur: 61)
Syaikh Nashir As Sa’di berkata, “Firman-Nya: “Salam dari sisi Alloh”, maksudnya Alloh telah mensyariatkan salam bagi kalian dan menjadikannya sebagai penghormatan dan keberkahan yang terus berkembang dan bertambah. Adapun firman-Nya: “yang diberi berkat lagi baik”, maka hal tersebut karena salam termasuk kalimat yang baik dan dicintai Alloh. Dengan salam maka jiwa akan menjadi baik serta dapat mendatangkan rasa cinta.” (Lihat Taisir Karimir Rohman)

Perintah dari Nabi
Baro’ bin Azib berkata, “Rosululloh melarang dan memerintahkan kami dalam tujuh perkara: kami diperintah untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan menolong orang yang dizalimi, memperbagus pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin…” (HR. Bukhori dan Muslim) Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Perintah menjawab salam maksudnya yaitu menyebarkan salam di antara manusia agar mereka menghidupkan syariatnya.” (Lihat Fathul Bari 11/23)

Dari Abu Huroiroh, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Dari Abdulloh bin Salam, Rosululloh bersabda yang artinya, “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan sholatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (Shohih. HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Etika Salam
Imron bin Husain berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi seraya mengucapkan Assalamu ‘alaikum. Maka nabi menjawabnya dan orang itu kemudian duduk. Nabi berkata, “Dia mendapat sepuluh pahala.” Kemudian datang orang yang lain mengucapkan Assalamu ‘alaikum warohmatulloh. Maka Nabi menjawabnya dan berkata, “Dua puluh pahala baginya.” Kemudian ada yang datang lagi seraya mengucapkan Assalamu ’alaikum warohmatullohi wa barokatuh. Nabipun menjawabnya dan berkata, “Dia mendapat tiga puluh pahala.” (Shohih. HR. Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

Dari hadits tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

* Memulai salam hukumnya sunnah bagi setiap individu, berdasar pendapat terkuat.
* Menjawab salam hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan para ulama.
* Salam yang paling utama yaitu dengan mengucapkan Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh, kemudian Assalamu’alaikum warohmatulloh dan yang terakhir Assalamu’alaikum.
* Menjawab salam hendaknya dengan jawaban yang lebih baik, atau minimal serupa dengan yang mengucapkan. Alloh berfirman:
وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An Nisa: 86)
Dalam hadits lain Rosululloh bersabda yang artinya, “Hendaknya orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yang dduk yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam lafazh Bukhori, “Hendaklah yang muda kepada yang lebih tua.” Demikianlah pengajaran Rosul tentang salam. Namun orang yang meninggalkan tatacara salam seperti pada hadits ini tidaklah mendapat dosa, hanya saja dia telah meninggalkan sesuatu yang utama.

Salam Kepada Orang yang Dikenal dan Tidak Dikenal
Termasuk mulianya syariat ini ialah diperintahkannya kaum muslimin untuk memberi salam baik pada orang yang dikenal maupun orang yang belum dikenal. Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat apabila salam hanya ditujukan kepada orang yang telah dikenal.” (Shohih. Riwayat Ahmad dan Thobroni). [Buletin At Tauhid, Disadur dari majalah Al Furqon edisi 9 th III]

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King