Funky tapi Religius

10 November 2006

Suara Hati Sang Ikhwan

Filed under: Pernikahan - Anik Arrifai @ 2:00 pm

Wanita Suci
(Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci di Dunia)

Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersu! sunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Wanita suci,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.

Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lel! aki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

Wanita suci,
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu’an tangis do’amu.

Wanita suci,
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih b! aik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,
seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta dan menerima cinta dalam setiap denyut nadi kita.

=======================================================
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah."
(HR Muslim)
=======================================================

Maafkan Karena Aku Bukan Pangeran

Filed under: Pernikahan - Anik Arrifai @ 1:57 pm



Usianya masih jauh dari setengah abad, namun tubuhnya kian tampak mengisut. Dahi yang kadang berkerut, dan kantung kehitaman di bawah mata membuat cahaya wajahnya meredup. Jelas, kecantikan masa lalunya perlahan pudar diranggas keriput.

Keringat masih menetes dan membasahi daster berwarna pudar yang dikenakannya, namun ia terlihat kembali sibuk membersihkan peralatan dapur. Sebentar kemudian beralih mencuci baju, membilas dan menjemur. Bagaikan manusia perkasa, ia seolah-olah selalu bertenaga mengurus semuanya. Tak kenal lelah, hingga jarum jam berdentang saat tengah malam tiba.

Sekejap akupun merenung…

Ia menundukkan pandangan, menyembunyikan senyum ketika pertama kali bertemu. Tak sepatah kata terucap, karena ayah bunda telah mengerti makna diam bagi seorang dara yang! dilamar jejaka. Sepekan menjelang, kitapun disatukan dalam mitsaqan ghalizha. Sebuah ikatan pernikahan yang begitu sederhana di mata manusia, namun begitu besar keutamaannya di hadapan Sang Pemilik Cinta.

Saat itu, hanya seperangkat mukena dan mushaf sebagai mahar. Tampak matanya berkaca-kaca, rasa haru menyeruak dari lubuk hatinya. Terlebih saat kulantunkan untaian ayat tentang tuntunan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Tak ada intan permata atau harta berlimpah ruah. Tak ada pula kereta kencana bertahta emas yang dihela banyak kuda. Istana yang ditempati juga hanyalah sebentuk rumah kontrakan yang sangat sederhana. Dihiasi beberapa helai kain batik usang, cukuplah sebagai tirai sutra penutup jendela. Bantal kapuk pun bagaikan berisi bulu domba untuk kita senantiasa bercengkrama.

Seiring waktu yang selalu berganti siang dan malam, perlahan raganya tak lagi indah dan segar laksana kuntum bunga yang sedang merekah. Lentik jari-jemari telah menjadi kapalan, semerbak harum mewangi lambat laun berganti aroma aneka masakan.

Aku semakin masyuk merenung dan menerawang jauh…

Teringat kisah Asma’, putri Abu Bakar yang tak pernah sungkan menyabit rumput, menanam benih di kebun hingga memelihara kuda sang kekanda tercinta. Bahkan seorang Fatimah harus rela lecet telapak tangannya karena letih menumbuk gandum dan mengerjakan urusan rumah tangga. Tak ada dayang-dayang cantik nan jelita sebagai pelayan atau khadimah, padahal mereka adalah putri-putri seorang khalifah dan Rasulullah.

Aaah…
Kudengar dengkuran halus, tapi cukup mengembalikan jiwaku yang tadi sempat melayang jauh.

Tentu, ia yang terbaring dengan raut wajah letih itu bukan Asma’ atau Fatimah. Namun, keikhlasan dan kesabarannya semoga menuai pahala seperti layaknya mereka.

Ia pun bukan Cinderella atau istri seorang pangeran tampan nan rupawan, putra maharaja yang memiliki istana megah dan indah. Seorang pewaris sebuah kerajaan yang dengan kekayaannya sanggup menyediakan dayang-dayang untuk senantiasa melayani atau meringankan beban pekerjaan.

Ia hanyalah belahan jiwa dari seorang laki-laki biasa, yang harus hidup membanting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi keluarganya.

Semakin kutatap wajahnya dengan penuh luahan rasa cinta dan kasih sayang. Lalu akupun segera bangkit dari tempat duduk, menghampirinya yang sedang pulas tertidur seraya berbisik penuh kemesraan, “Maafkan, karena aku bukan pangeran.”

Source: buku “Sapa Cinta Dari Negeri Sakura”
Penulis : Abu Aufa

Aku Wanita Yang Sedang Jatuh Cinta

Filed under: Pernikahan - Anik Arrifai @ 1:54 pm


Aku wanita Lahir disaksikan langit
Tumbuh diiringi alam
Hidup bersanding takdir
Aku sedang jatuh cinta…

Aku wanita Seulas senyum menghiasi wajahku
Semburat pandang berasal dari bola mataku
Gontaian kakiku pasti melangkah
Ayunan tanganku pasti berkarya
Gerak tubuhku pasti dinamis
Khayalku adalah keindahan
Pikirku adalah optimis
Mekarlah bunga-bunga di taman hatiku
Dikelilingi kupu-kupu warna-warni
Aku sedang jatuh cinta…

Aku wanita Cahaya diatas cahaya berlapis-lapis menghampiriku
Akar menghujam ke dalam bumi, berbatang menjulang ke langit, berdaun rimbun meneduhan, berbuah segar menyenangkan
Aku sedang jatuh cinta…

Aku wanita
Gerak kebaikkan adalah hidupku
Semangat kesungguhan adalah nafasku
Ridho Sang Pencipta adalah impianku
Menatap Raja Di Raja adalah puncak kenikmatanku
Aku sedang jatuh cinta…

Aku wanita
Bak lampu kristal nan indah
Menerangi, menawan, tapi mudah hancur
Hancur tanpa gerak kebaikkan
Hancur tanpa semangat kesungguhan
Hancur tanpa ridho Sang Pencipta
Hancur tanpa kesempatan menatap Raja Di Raja
Aku sedang jatuh cinta…

Aku wanita
Kan ku pelihara cinta suciku
Kan ku jaga kerinduanku Kan ku capai cita tertinggiku
Menjadi pengadi Illahi Rabbi Slamanya Aku sedang jatuh cinta…

Aku adalah seorang wanita Yang benar-benar sedang jatuh cinta……..

Biar Kuncupnya jadi Mekar

Filed under: Pernikahan - Anik Arrifai @ 1:52 pm
Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran.
Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan dan memekarkan bunga; Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta,dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar diatas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya Umar mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun jua menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini; menghidupkan….

Umar mungkin akan dekat dengan peristiwa ini; bagaimana calon istri Umar nanti melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, menumbuhkannya, mengembangkannya, menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila Umar ingin mencintai dengan kuat, maka Umar harus mampu memperhatikan dengan baik, menerima apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawat dan menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pencinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah Umar telah mengenal sang calon istri dengan seksama? Apakah Umar udah mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya? Apakah kecenderungan-kacenderungannya ? Apakah Umar mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksnya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?

Apakah Umar dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan? Apakah Umar dapat melihat gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya? Pengenalan yang baik harus disertai dengan penerimaan yang utuh. Umar harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dalam proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau obsesi yang berlebihan terhadap fisik.

Umar tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika Umar dapat menerimanya apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa Umar menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan itu bukan kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya.

Apakah yang ia harap dari bayi kecil itu? Ketika ia merawatnya, menjaganya dan menumbuhkannya, apakah ia yakin bahwa kelak anak itu membalas kebaikan-kebaikannya? Tidak.

Semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang, dan karenanya ia menyimpan harapan besar dalam hatinya bahwa kelak hari-hari juga lah yang akan menjadikan segalanya lebih baik.

Penerimaan positif itulah yang mengantar kita kepada kerja mencintai selanjutnya; pengembangan. Pada mulanya seorang wanita itu adalah kuncup yang tertutup. Ketika ia memasuki rumah Umar, memasuki wilayah kekuasaan Umar, menjadi istri Umar, menjadi ibu
anak-anak Umar; UMARLAH YANG BERTUGAS MEMBUKA KELOPAK KUNCUP ITU, MENIUPNYA PERLAHAN, AGAR IA MEKAR JADI BUNGA.

Umarlah yang harus menyirami bunga itu dengan air kebapakkan, membuka semua pintu hati anda baginya, gar ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bungu-bunga cinta bersemi, dengan ungkapan AKU CINTA KAMU boleh jadi akan kehilangan makna katika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan tidak mengembangkan.

Apa yang harus Umar berikan kepada calon istri Umar adalah peluang untuk berkembang…. keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa bahwa superioritas Umar terganggu. Ini tidak berarti Umar harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yang ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dalam keseimbangan, dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang Umar perlu memotong sejumlah ranting yang sudah kepanjangan agar tetap selalu terlihat serasi dan harmoni.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah, maka duduklah sejenak bersama istri Umar nanti, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri APAKAH IA TELAH MENJADI LEBIH BAIK SEJAK HIDUP BERSAMA UMAR ?! mungkinkan suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya :
DAN… NAFAS CINTANYA….. MENIUP KUNCUPKU….. MAKA … IA MEKAR JADI BUNGA.

Karangan Ust Anis Matta.

Refleksi untuk Ikhwan wa Akhwat fillah

Filed under: Pernikahan - Anik Arrifai @ 1:47 pm

Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi ‘alad diinik…
Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi ‘alad da’watik…

Love is a give (Cinta adalah berkah)…
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)…
Cinta 4JJI yang membuat bumi ada…
Cinta 4JJI yang membuat sang surya bersinar…
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman…
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana…
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima…

Mirip seperti itulah hakikat menjadi da’I…
Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi da’wah…
Dia selalu memberi utk Islam, tanpa mengharapkan menerima utk setiap kerja da’wahnya…
Itulah ikhlash…
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah…
Siap mengeluarkan uang utk da’wah…
Siap mengeluarkan tenaga utk da’wah…

Ana teringat kata Ust. Darlis:
Bahwa hubungan ikhwan dan akhwat aktivis da’wah adalah seperti saudara…
Cukup sampai disana…
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI antar kader
(SIMPATI : SIMPan dAlam haTI)…
Kecuali 4JJI memberikan kesempatan padanya utk menyelesaikan setengah agamanya…

Jika 4JJI telah menentukan jodoh utk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo…?
Masih panjang langkah da’wah kita…
Masih begitu banyak lahan da’wah yang belum kita jamah…
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh…
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji 4JJI pada kita…
Jangan sampai da’wah kita berpenyakit hanya karena masalah ini…
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
Bila sampai ada aktivis da’wah yang terjangkiti hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)…

Da’wah adalah sesuatu yang suci…
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)…
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)…

Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya…
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab…

Dia beraksi dan berdemonstrasi utk menyuarakan yang haq didepan penguasa yang zholim (HR Bukhori Muslim)…

Bukan ingin ketenaran…
Dia berda’wah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya…

Ingat ikhwan wa akhwat fillah,
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:
Utk ikhwan…
Bila anda istiqomah di jalan da’wah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti…
Utk Akhwat…
Bila anda istiqomah di jalan da’wah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang ada di syurga…

Kebenaran hakiki hanya milik 4JJI…
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan…

Judul asli : Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat
Diambil dari : Prayoga.net

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King