Funky tapi Religius

16 October 2006

Kiat Berumah Tangga

Filed under: Pernikahan - Anik Arrifai @ 3:14 pm

Penulis : Drs. Syafaruddin Tanjung M.Pd.I

KotaSantri.com : Suami atau istri adalah salah satu kesatuan yang tak terpisahkan dari terwujudnya keluarga. Keluarga yang dimaksud dalam tulisan ini adalah hubungan yang terjalin karena adanya pernikahan antara suami dan istri.

Agama telah membekali masing-masing pihak untuk mengetahui apakah kedua belah pihak berada dalam garis tuntunan untuk menciptakan kehidupan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah di rumah tangga. Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina berdasarkan petunjuk agama sehingga menjadi tentram dan damai. Hal ini merupakan impian dan dambaan dari semua orang yang berkeluarga.

Islam telah menentukan bangunan bagi rumah tangga yang ideal dengan dasar-dasar yang istimewa dan permanen yang apabila orang yang mengamalkannya akan merasakan kedamaian dan ketentraman.

Rumah tangga adalah laksana bangunan yang memerlukan konsep penataan yang jelas agar dapat menghadapi guncangan dan terpaan dari arah mana pun datangnya. Penetapan kriteria tentang keluarga sakinah adalah suau kajian yang luas dan terkaitan antara satu sama lainnya.

Anjuran untuk memperkokoh kehidupan rumah tangga dijelaskan Allah melalui firman-Nya, "Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya atas dasar taqwa kepada Allah SWT, dan keridhaanNya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunan di tepi jurang yang runtuh lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. At-Taubah : 109).

Untuk membangun dan membina suatu keluarga, hendaklah diawali dengan proses pengenalan diri dari masing-masing pihak. Pengenalan diri yang sesungguhnya adalah awal dari pengenalan karakter bagi kehidupan suami-istri di rumah tangga. Banyak rumah tangga yang berantakan hanya karena perbedaan karakter. Prinsip saling mempertahankan sikap yang tidak tunduk kepada ajaran agama mengakibatkan terjadinya perceraian. Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya telah memberi tuntunan kepada laki-laki atau wanita sebagai muslim yang baik dalam membina berkeluarga.

1. Taat Beragama dan Baik Akhlaknya
            Agama merupakan keyakinan mendasar dari semua kepentingan hidup. Tidak ada yang melandasi seseorang untuk menciptakan kepribadian hakiki kecuali dengan mengamalkan agama dengan sempurna. Agama adalah satu-satunya pembeda antara yang haq dan bathil. Kebahagiaan hidup tanpa agama adalah kebahagiaan semu yang tidak mendapat jaminan dari Allah SWT. Mengamalkan agama berarti menjunjung tinggi Al-Qur’an, mempermainkan agama berarti mengolok-olokan Al-Qur’an. "Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (QS. Al-Baraqah : 15).

2. Penyabar 
            Untuk menciptakan keluarga yang damai dan tentram di setiap rumah tangga. Dituntut suatu kesabaran dari masing-masing pihak baik suami atau istri. Sabar adalah penjelmaan dari lapang dada dalam menerima kepahitan dan kesulitan hidup serta menghindarkan diri dari bersifat keluh kesah. Tidak selamanya hidup itu indah, sekali waktu akan mengalami kekecewaan. Bila suami atau istri tidak ridha dalam menerima karunia atau musibah, bisa menyebabkan kehancuran. "Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna Lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun." (QS. Al-Baraqah : 156).

3. Amanah
            Amanah adalah penjelmaan dari tanggung jawab dalam memenuhi kepercayaan baik istri atau suami. Bila kepercayaan tidak lagi menjadi landasan bagi masing-masing diri, maka akan melahirkan buruk sangka yang dapat mengundang malapetaka. "Sebaik-baik istri yaitu yang menyenangkanmu ketika kamu melihatnya, taat kepadamu ketika kamu suruh, serta manjaga diri dan hartamu ketika kamu pergi." (HR. Thabrani). 
 
4. Menjauhi Maksiat
            Membersihkan diri dari perbuatan maksiat merupakan perintah agama yang paling utama. Sebesar dan sekecil apapun perbuatan maksiat merupakan suatu pelanggaran yang mengundang kemurkaan Allah SWT. Suami sebagai kepala rumah tangga wajib menyelamatkan keluarganya dari siksa api neraka. Makanan yang dikonsumsi keluarga hendaklah diperoleh dengan cara yang baik. "Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim : 6).
 
Membina rumah tangga sakinah penuh berkah adalah dambaan setiap muslim. Namun karena banyak yang mengabaikan konsep keteladanan ajaran, banyak yang akhirnya pupus di tengah jalan. Rumah tangga yang tentram dan damai diharapkan dapat melahirkan generasi yang berkualitas sesuai dengan nilai-nlai ketaqwaan. Itulah yang dapat menciptakan kehidupan bernilai disisi Allah SWT.

Broken Heart

Filed under: Akhlaq - Anik Arrifai @ 3:11 pm

Penulis : Sri Mulyani

KotaSantri.com : Pernah ga seh ngrasain yang namanya Broken Heart atw heart breaking atw patah hati? Hii, hati gitu loh patah, gimana nyambungnya coba? Hehe.. Hmm, yang pasti seh ga enak banget deh (self experience neh. Hik.. Hik..). Tapi sepertinya seh banyak orang yang pernah mengalami hal ini, termasuk penulis getu??? Hahaha.. (Ga juga seh).

***

What is Broken Heart?

Apa seh patah hati itu? Apa bener hati itu bisa patah-patah (eh yang ada mah goyang patah-patah atuh. Hik..)? Atau bahkan hancur berkeping-keping? Kata Dewa seh ‘hancur hatiku mengenang dikau jadi keping-keping setelah kau pergi‘ Hehehe…

Pokoknya ya gitu deh, itu kan ungkapan klise aja yang menyatakan klo hati tuh kecewa berat, resah abis, gelisah tak menentu, yang membuat hidup serasa meaningless, hopeless, pokoknya yang less less gitu loh. Duh kan sayang hari gene harus ngrasain begini, tapi ya namanya perasaan kan who knows, datang tiba-tiba dan akhirnya… ‘Unbreak my heart say you love me again,‘ kata whitney Houstan. Dan kata Novia, ‘haruskah ku mengemis cinta untuk menghilangkan duka,‘ Hahaha.. Gitu amat yah.

***

Causes and Effects

Apa seh yang membuat orang being broken heart? Banyak orang mungkin mengira klo patah hati tuh hanya karena C I N T A. Hmm… Padahal ga juga loh, bisa juga karena obsesi yang ga kesampaian, atau cita-cita yang kandas di tengah jalan, dsb. Tapi mang seh yang lebih dominan broken Heart ini lebih mengarah pada keinginan atau obsesi yang berhubungan dengan LOVE (Upssst what love is all about???), karena kata orang seh yang namanya Love itu sangat dahsyat (katanya loh, hahaha).

Nah… Gimana klo ternyata love-nya ga kesampaian? Bisa jadi ketika dah ta’aruf ga disetujui ortu, atau bahkan ketika rasa suka itu datang tiba-tiba pada sseorang, sedang seseorang itu dah ada yang punya. Duh, kecewa ga seh (biasa aja lage, hehehe)?

Itulah klo urusan hati, sedikit saja kecewa bisa jadi resah, gelisah, dan tanpa arah. Akhirnya hati pun menjadi patah dan ah.. ah.. ah.. Hingga membuat kita jadi malas untuk melakukan sesuatu, maunya cuma bengong and merenung (bagi yang belom ngalamin jangan ngremehin loh, ntar kena baru tau rasa!!!).

Tapi ini sangat manusiawi, aku yakin semua orang pernah mengalami kecewa dan sakit hati. Cuma kadar dan cara mengkondisikannya aja yang berbeda hingga ada yang sampai patah hati dan ada yang merasa tak perlu patah hati.

***

Solution

1. Life Must Go On, No Matter What
            Satu hal yang harus sangat kita sadari adalah apapun yang terjadi, hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa patah hati. Artinya, kondisi seperti apapun yang kita alami, yah harus kita hadapi, karena kita ga mungkin lari dari kenyataan. Semua untuk dihadapi, bukan tuk dihindari. Dan ingat!!! Selama kita hidup, harus siap dengan segala macam realita yang ada, karena kadang kita ga bisa memilih ketika kondisi yang menyakitkan itu datang, yang mungkin sebagai ujian atau cobaan iman. Maka harus kita camkan dalam hati, hanya kematian yang membuat hidup ini berhenti, karena itu kita hanya punya dua pilihan, membawanya lebih baik atau membuatnya lebih buruk. Akan kita apakan hidup ini??

2. Keep Moving and Keep Struggling
            Mang suatu hal yang sangat berat, ketika kita ngalamin yang namanya broken heart, hidup serasa hampa, tanpa semangat, dsb. Tapi kondisi ini jangan sampai membuat kita statis, karena statis means death, berhenti itu artinya mati. Klo kita tinggal diam dengan masalah yang kita hadapi, itu sama saja bunuh diri. So, jangan berhenti tuk cari solusi, dan yang paling utama pastinya dengan do’a. Mohon petunjuk padaNya. Tapi secara real kita harus berusaha sebisa mungkin tuk keluar dari masalah itu. Misalnya dengan mengkonsultasikan masalah itu dengan orang yang lebih berkompeten dan juga jangan berhenti dari aktivitasmu. Justru kesibukanmu akan sangat membantu mengobati sakit hatimu. Jangan sia-siakankan waktu luang, gunakan untuk kegiatan yang bermanfaat.

3. Jemput HidayahNya 
            Sebenernya orang yang taraf ketaqwaannya sudah tetap mungkin ga akan ngelamain hal-hal seperti ini, karena orang yang sudah punya prinsip ketaqwaan yang kuat akan segera mengkonter hal-hal yang meresahkan hatinya dengan mengembalikan pada prinsipnya, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Ini kan golongan orang-orang yang istimewa, yang takkan di resahkan hatinya karena hal-hal yang bersifat duniawi. Dan orang-orang seperti ini sudah mendapat hidayah dari Allah, sehingga dengan mudah bisa mengatasi hatinya (mudah-mudahan aku juga bisa ke tingkat itu suatu saat, aamiin). Tapi buat kita, upsst, maksudnya orang-orang sepertiku yang masih rendah taraf ketaqwaannya, harus berusaha keras untuk mengkonter hal ini dengan terus mendatangi majelis-majelis ilmu dan terus menerus berdo’a memohon hidayahNya. Karena sesungguhnya Dialah yang menggenggam hati kita, maka hanya padaNya kita serahkan, tentunya dengan ikhtiar juga.

4. Jangan Berputus Asa Mengharap PertolonganNya
            Mungkin pernah ngerasa, duh dah kering neh airmata tiap kali berdo’a, tapi kenapa yah tak kunjung juga menemukan solusi? Upsst, sabar dong, menurut Ustadz neh. Ehm, hati yang resah dan bermasalah itu adalah hati yang sakit, karena itu perlu di sembuhkan. Nah… Seperti halnya penyakit biasa, penyakit hati pun ada tingkatannya. Tentu saja cara penyembuhannya pun membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Semakin parah sakit yang di alami hati, maka akan membutuhkan waktu atau terapi yang semakin lama. Everything needs process. Jadi, jangan berharap sekali dua kali berdo’a, semua akan beres. Layaknya penyakit fisik, hati pun butuh terapi. So, jangan berputus asa untuk tetap berdo’a dan berusaha untuk keluar dari keterpurukanmu. Percayalah dunia takkan berhenti dengan sakit hatimu, dan keputusasaanmu hanya akan membuatmu lebih menderita. Jadi, YOU MUST SURVIVE. Allah menilai usaha kita bukan hasilnya.

Ok, bagi yang lagi broken (tapi bukan broken flat loh..), selamat mencoba… Sebenernya ini seh baru teori yang ditemukan penulis, hehehe. Mudah-mudahan sukses yah! Ya, namanya Thinker kan hanya menemukan ide (hik.. hik.. sok buanget neh), berhasil ngganya seh tergantung yang mengaplikasikannya. Upst, ini kata dosen Filsafat loh. Hehehe… Just Kidding.

Lead your life to be better by means of enjoying whatever comes into your days.

Teruntuk Sahabatku…

Filed under: Muhasabah - Anik Arrifai @ 3:08 pm

Penulis: Ummu Habibah
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman
Sumber: www.muslimah.or.id

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Wahai sahabatku bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah engkau sudah mempersaksikan di hadapan seluruh makhluk dan malaikat yang menjunjung ‘Arsy yang agung dan malaikat seluruhnya bahwa engkau seorang muslim? Mempersaksikan bahwa Dia lah Robb yang agung, yang paling pedih azabnya sekaligus paling luas rahmatnya, sebagai Dzat yang satu-satunya berhak diberikan seluruh kecintaan, rasa takut dan harap dengan ketundukan dan penyerahan diri yang sempurna?

Sahabatku, sudahkah engkau bertekad hari ini untuk mengerjakan sunnah Rosululloh dengan benar dan ikhlas di atas syariat yang haq, yang tidak dinodai kebatilan syahwat dan syubhat yakni dengan cara mengikuti metode pemahaman dan pengamalan islam yang dilakukan oleh sahabat yang mustaqiim?

Sahabatmu menulis risalah ini saat hatinya sedang terbang melihat sahabatnya yang mencintai agama Allah… menginginkan kebaikan pada dirinya dan orang-orang yang disayanginya…
Sahabatmu menulis risalah ini mengharapkan agar sekiranya risalah ini menjadi batu perbaikan untuk meraih metode pemahaman dan pengamalan islam yang lurus dan meraih jalan kebaikan…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan niat –yang semoga Alloh meluruskannya- yang menginginkan kebaikan bagi engkau wahai sahabatku…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan harapan semoga melapangkan dada, menjernihkan akal dan bisa diterima oleh hati…
Sahabatmu menulis risalah ini agar ilmu menjadi bersinar dan tersebar… dan menjadi pembuka menuju jalan ke jannah-Nya…
Sahabatmu menulis risalah ini dan sangat mengharapkan persatuan kata dalam satu shaf yang sama, bersama-sama menapaki atsar Rosullulloh dan sahabatnya dan meraih beribu-ribu keindahan iman yang dicapai tholabul ‘ilmi…
Sahabatmu menulis risalah ini dan dia yakin dengan pasti dan tanpa ragu didalamnya ada kesalahan dan kekurangan… karenanya dia memohon ampun kepada Alloh dan memohon maaf kepadamu sahabatku…

Tausiyah Untukku dan Untukmu

Sahabatku, bacalah apa yang Allah firmankan padamu…

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadillah: 11)

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28)

Sahabatku, ingatlah pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepadamu…

“Barangsiapa yang Allah menghendaki suatu kebaikan pada dirinya maka Dia memberinya pemahaman dalam masalah dien.” (HR. Bukhori Muslim)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi termasuk pula semut di dalam liangnya, termasuk pula ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmidzi)

“Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah ialah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang gemintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah para pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu itu, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

“Sesungguhnya para malaikat benar-benar mengepakkan sayap-sayapnya pada orang-orang yang mencari ilmu, karena ridho terhadap apa yang dicarinya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

“Barang siapa meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang didatangi kematian pada saat dia sedang mencari ilmu, yang dengan ilmu itu dia hendak menghidupkan islam, maka antara dirinya dan para nabi hanya ada satu derajat di surga.” (HR. Ath-Thabrani)

Ketahuilah sahabatku… hukum mencari ilmu dien adalah wajib. Rosululloh bersabda, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketahuilah sahabatku… diantara semua ilmu ada ilmu yang terpuji dan ada ilmu yang tercela. Dan di antara ilmu yang terpuji ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah. Ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain adalah ilmu yang dengannya engkau dapat mengenal Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap gerak-gerikmu, ucapanmu, perbuatanmu yang kau tampakkan maupun yang ada di dalam hatimu. Sedangkan ilmu yang termasuk fardhu kifayah adalah setiap ilmu yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup di dunia seperti ilmu kedokteran dan farmasi.

Maka ilmu yang fardhu ‘ain wajib untuk dicari oleh setiap muslim sedangkan ilmu yang fardhu kifayah adalah wajib untuk dicari oleh seorang muslim, namun apabila sudah dikerjakan oleh sebagian muslim maka gugur kewajiban yang lain.

Ketahuilah sahabatku… jadilah salah seorang diantara dua jenis manusia. Pertama jadilah orang yang sibuk dengan dirimu sendiri dengan hal yang fardhu ‘ain. Kedua setelah selesai dengan kesibukan diri sendiri berilah manfaat pada orang lain dengan hal yang fardhu kifayah. Jangan menjadi orang yang hanya sibuk memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri sendiri. Perhatikanlah hati dan amalanmu. Jika engkau belum bisa menata diri sendiri dan hatimu, maka janganlah engkau menyibukkan diri dengan yang fardhu kifayah sebab orang lain telah banyak yang mengamalkan ilmu ini. Orang yang hendak mencelakakan dirinya sendiri dengan memperbaiki keadaan orang lain adalah orang yang bodoh. Perumpamaan dirinya seperti orang yang di dalam pakaiannya tersusupi kalajengking, lalu dia mengendap-endap untuk menghalau seekor lalat agar tidak hinggap di tubuh orang lain di sampingnya.

Jika engkau sudah bisa menata diri sendiri, engkau boleh menyibukkan diri dengan ilmu yang fardhu kifayah. Mulailah mencari ilmu dari Kitabullah dan Sunnah baru engkau mendalami ilmu yang lain. Janganlah engkau menghabiskan umurmu dalam satu jenis ilmu karena ingin mendapatkan predikat spesialisasi. Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak sementara umur manusia sangat terbatas. Maka pilihlah ilmu yang paling bermanfaat bagimu yang dengannya engkau bisa meraih ridho Allah.

Sahabatmu ini pernah mendapatkan nasihat, “Sempatkan waktumu menemui majelis-majelis ta’lim yang lurus aqidah, akhlaq dan manhajnya sekalipun harus menempuh jalan yang jauh dan sulit. Sempatkan hatimu untuk menerima belaian dan makanan berupa ilmu. Ingat dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu bagi hati bagaikan air bagi ikan. Apa jadinya ikan tanpa air? Lalu apa jadinya hati tanpa ilmu?”

Namun sahabatmu ini sibuk sekali dengan urusan dunia dan prestasi, menganggap bahwa dunia sudah cukup untuk menepis musibah dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan datang lalu pergi dan hatinya terasa begitu kering. Musibah datang silih berganti dan membuat hatinya semakin kering hingga sahabatmu ini mendapat nasehat lagi…

Zuunuun rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai saudaraku berdirilah di hadapan tuhanmu seperti anak kecil di hadapan ibunya. Setiap kali ia dipukul oleh ibunya, ia malah bergerak ke arahnya dan setiap kali ia diusir ia malah mendekatinya. Keadaannya tetap seperti itu sampai sang ibu mendekapnya.”

Sabarlah jika engkau sedang ditimpa musibah, berdoalah kepada Allah agar semua itu bisa mengurangi dan menghapus dosa-dosamu. Kembalilah pada Allah dan carilah solusi dari Rosulullah. Sesungguhnya dalam Islam terdapat solusi bagi seluruh permasalahan. Dan cukupkan dirimu dengan solusi yang Allah dan Rosul-Nya berikan. Karena Allah lah yang Maha Bijaksana, menentukan yang terbaik bagi hambaNya. Dan memang, solusi terbaik atas seluruh urusan adalah islam, agama yang sempurna dan indah dari segala segi. Kebahagiaan hakiki ada pada Islam.

Sahabatku… bersabarlah untuk terus melangkah menggapai manisnya iman. Kita tidak akan pernah tahu, kapan umur kita pupus. Maka manfaatkanlah waktu untuk bersegera merajut manfaat dalam ridho Allah. Perjalanan sungguh amat jauh dan berat karenanya perlu bekal yang banyak agar kita tidak merugi. Dan kumpulkan bekal itu sekarang karena kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Bahkan sampai besok pagi pun kita tidak tahu apakah kita masih hidup.

Kelak di akherat, Robb kita tidak akan menanyakan: Bagaimana duniamu? Apakah orang tuamu kau bahagiakan dengan duniamu?

Tidak, sama sekali tidak…
Justru Robb kita akan bertanya: Untuk apa masa mudamu kau gunakan? Dan semoga saat itu walidain kita akan bangga dengan kesholehan anaknya, bukan dengan hal-hal yang dibanggakan di dunia tapi hakikatnya menjadi tamparan yang amat menyakitkan bagi mereka di akherat. Manakah yang engkau ridho atasnya sahabatku?

Jangan tertipu oleh alasan-alasan maya yang dibisikkan syaithon untuk membenarkan yang salah, menghalalkan yang haram dan menyamarkan hal-hal yang jelas.

Sahabatku… tentulah kita semua tahu bahwa terbukanya pintu taubat adalah hingga ditariknya nyawa sampai tenggorokan. Setelah itu tertutuplah pintu taubat untuk selamanya dan tak berguna lagi penyesalan sesudah itu. Tapi sahabatku, tak seorang pun tahu kapan kematian menjemput, kapan pintu taubat ditutup, apakah tahun depan, bulan depan, malam ini atau setelah beranjak dari tempat ini?? Tak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya hingga begitu banyak manusia meremehkan bersegera dalam bertaubat dan dalam keadaan merasa aman dengan ilmu, amal, dan agama yang ia miliki sekarang. Padahal barangsiapa yang merasa aman dengan agamanya maka Allah mencabut agamanya pada saat itu juga.

Sahabatmu ini hanya bisa berdoa semoga dalam kesendirian kita masing-masing kita tetap bersemangat berpegang teguh terhadap al-haq, tetap istiqomah, menjunjung nilai-nilai sunnah dalam setiap tingkah, langkah, menit dan detik kita. Kita berlindung kepada Allah dari fitnahnya dunia dan segala perhiasannya. Semoga kita diselamatkan dari tipu daya dan bisikan syaithon yang melalaikan kita dari mengingat agungnya akherat.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kita sudah mengetahui maknanya. Lalu kapankah kita mengamalkan?

Risalah ini hanya sekadar mengingatkanmu sahabatku, sesungguhnya ilmu yang kita pelajari di kampus bermanfaat. Tidak ada yang melarang kita untuk mempelajarinya, bahkan sangat dianjurkan demi kemaslahatan umat Islam. Apalagi jika kita belajar untuk birul waliddain, tentu pahalanya akan lebih berlipat lagi. Tapi sekali lagi sahabatku, tentu engkau sudah mampu mempertimbangkan manakah yang seharusnya lebih didahulukan, bahwa ilmu yang kita pelajari hukumnya fardhu kifayah dan butuh ilmu yang fardhu ‘ain sebagai landasannya. Sahabatku, engkau sudah dewasa dan engkaulah yang berhak menentukan jalan yang akan engkau tempuh. Sahabatmu ini sekedar menyampaikan ilmu yang sudah sampai padanya. Karena sahabatmu ini sangat menyayangimu karena Allah dan berharap kelak bertemu denganmu di surgaNya dan masih bersamamu ketika menuai ridho-Nya dan memandang wajah-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dari sahabatmu…

Bahaya Riba

Filed under: Muamalah - Anik Arrifai @ 2:57 pm

Assalamu’alikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Telah banyak seruan di koran-koran lokal maupun asing untuk menanamkan saham di bank-bank riba, dan menipu manusia untuk menyimpan padanya dengan imbalan bunga yang jelas terpampang. Sebagaimana diberitakan oleh sebagian lembaran-lembaran yang memuat fatwa tentang bolehnya bermuamalah bersama bank riba dengan bunga tertentu, maka ini adalah perkara yang sangat berbahaya, karena merupakan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wasallam, serta menyelisihi perintah Allah Ta’ala, padahal Allah telah berfirman : "maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih" (An Nur : 63)

Dalam agama sudah jelas berdasarkan dalil-dalil syar’i dari Al Qur’an dan Sunnah bahwa bunga-bunga tertentu yang diambil oleh para pemilik modal sebagai imbalan atas saham atau tabungan mereka di bank-bank riba adalah haram dan membinasakan, dan termasuk riba yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, juga termasuk dalam katagori dosa-dosa besar, dapat mengilangkan barakah, dimurkai Allah Azza Wajalla, dan juga sebab tidak diterimanya amalan. Telah sahih dari Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : 

"Sesungguhnya Allah itu baik (suci) dan tidaklah menerima kecuali yang baik (suci pula), dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan sesuatu yang telah diperintahkan para rasul-Nya" (HR. Muslim, Tirmidzi, AHmad dan Ad Darimi).

Allah Ta’ala berfirman : "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Mukminun : 51).

Firman-Nya : "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah" (Al Baqarah : 172)

Kemudian beliau menyebutkan : "Seseorang yang berpergian jauh dengan pakaian berdebu dan rambut kusut memangangkat kedua tangannya ke langit kemudian berkata wahai Tuahnku, wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, bagaimana bisa diterima doanya sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaianya haram serta selalu diberi makan dengan yang haram" (HR. Muslim)

Dan hendaklah setiap muslim mengetahui bahwa dia akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Rabb-nya, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana dia infaqkan. Dalam sebuah hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Tidaklah seorang hamba melangkahkan kakinya pada hari kiamat, kecuali pasti dia akan ditanya tentang empat perkara yaitu masa mudanya untuk apa dia isi masa mudanya, umurnya untuk apa dia habiskan, hartanya dari mana dia kumpulkan dan kemana dia infaqkan, dan apa yang dia amalkan dari ilmunya”. (HR. Tirmidzi dan Ad Darimy, Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih)


Ketahuilah wahai hamba Allah mudah-mudahan Allah selalu memberi taufiq kepada kita dan Engkau terhadap segala yang diridhoi-Nya, bahwa riba termasuk dosa besar dari serangkaian dosa besar yang pengharamannya sangat keras dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam dengan segala bentuk, macam dan namanya. Allah ta’la berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat" (Ali Imran : 130-132)


 


Dan firman-Nya : "Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah." (Ar Rum : 39)


 


Dan firman-Nya : "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al Baqarah : 275-276)


 


Dan Firman-Nya : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya" (Al Baqarah : 278-279). 


 


Maka betapa besar dosanya orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, kita minta kepada Allah keselamatan darinya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan. Mereka (sahabat) bertanya" apa dia wahai Rasulullah, beliau bersabda : "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim dan lari dari peperangan, serta menuduh (zina) wanita-wanita mukmioah yang lalai" (Mutafaq alaihi).


 


Dalam sahih Muslim dari Jabir Radyallahu anhu berkata : "Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberinya, dua saksi dan penulisnya kemudian beliau bersabda "mereka semua sama (dosanya)".


 


Ini adalah sebagian dalil-dalil Kitabullah dan sunnah rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan haramnya riba dan bahayanya terhadap pribadi dan umat. Dan yang bermuamalah dengannya, saling memberinya telah terjerumus kedalam perbuatan dosa besar, dan termasuk memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Maka nasihatku bagi setiap muslim yang menginginkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhirat untuk bertakwa kepada Allah terhadap diri dan hartanya, dan supaya mereka mencukupkan diri terhadap apa yang dibolehkan Allah dan Rasul-Nya serta berhenti dari yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya apa yang dibolehkan Allah itu telah mencukupi dari apa yang diharamkan-Nya. Dan bagi setiap muslim untuk selalu menasehati dirinya jika dia ingin kebaikan dan keselamatan dari adzab Allah dan beruntung dengan keridhoan dan rahmat-Nya, yaitu dengan menjauhkan diri dari ikut serta dalam bank-bank riba, atau menyimpan dan meminjam di dalamnya dengan bunga.


 


Karena menanamkan saham di dalamnya atau meminjam dan menyimpan uang di dalamnya dengan bunga termasuk dalam mumalah ribawiyah serta tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan yang telah Allah larang dengan firman-Nya : "Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan" (Al Maidah : 2).

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan selamatkanlah dirimu dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya bank-bank riba, jangan pula tertipu dengan tersebarnya mumalah riba ini di setiap tempat, serta banyaknya orang yang bermumalah bersamanya, karena yang demikian bukanlah dalil akan bolehnya muamalah ini, akan tetapi justru itu adalah dalil yang menunjukan banyaknya orang yang berpaling dari perintah Allah serta menyelisihi syariat-Nya. Allah ta’ala berfirman : "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah" (Al An’am : 116).


 


Sangat mengherankan sekali bahwa banyak manusia, ketika Allah berikan nikmat kepada mereka dan Allah berikan kelapamgan rizki dari karunia-Nya dan mencukupkan mereka dengan banyaknya harta, akan tetapi justru mereka tidak perhatian untuk beramal dengan hukum-hukum Islam dan mencukupkan diri dari yang diharamkan Allah dengan yang dibolehkan Allah. Akan tetapi mereka lebih mementingkan bagaimana mendapatkan harta dengan berbagai cara baik dengan cara halal ataupun haram, tidaklah yang demikian itu keculai karena lemahnya iman dan sedikit sekali takutnya dari Rabb mereka dan hati-hati mereka senantiasa diliputi oleh rasa cinta dunia. Kita minta kepada Allah taufiq dan keselamatan dari segala perkara yang menyelisihi syariat-Nya yang suci.

Kenyataan yang menyedihkan ini dirasakan kebanyakan oleh muslimin yang mengizinkan datangnya kemarahan Allah dan adzab-Nya. Allah telah berfirman memperingatkan dan mengingatkan berbagai kemaksiatan dan dosa-dosa : "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al Anfal : 25)


 


Aku tujukan nasehatku untuk para penanggung jawab di koran-koran lokal khususnya dan koran-koran di negeri Islam pada umumnya, untuk membersihkan lembaran-lembaranmu dari tersebarnya segala yang menyelelisihi syariat Allah yang suci di segenap aspek kehidupan, sebagaimana aku nasehatkan pula kepada segenap penanggung jawabnya terlebih kepada pemimpin-pemimpin koran supaya tidak menerbitkan sesuatu yang mengandung unsur penyelisihan terhadap agama Allah dan syariat-Nya. Dan tidak ragu lagi bahwa ini adalah perkara yang wajib atas mereka. Mereka kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah jika mereka menyia-nyiakan (amanah) nya. Sebagaimana aku nasehatkan juga kepada saudaraku muslimin secara umum untuk bertakwa kepada Allah Tabaraka wata’ala dan berpegang teguh dengan kitab Allah serta sunnah Nabi-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, supaya mereka mencukupkan diri dengan yang Allah halalkan dan berhati-hati dari perkara yang Allah haramkan. Janganlah mereka tertipu dengan apa yang tertulis dan tersebar di koran-koran dan selebaran fatwa-fatwa dan ucapan-ucapan yang membolehkan menanamkan saham di bank-bank riba, menyimpan atau menabung padanya dengan cara riba atau menganggap kecil akan dampak (dosa) darinya. Dan sesungguhnya fatwa dan ucapan ini tidak dibangun di atas dalil-dalil syar’i baik dari Kitab Allah maupun Sunnah Rasul-Nya, akan tetapi tak lain hanyalah pendapat dan pentakwilan orang-orang semata. Kami minta kepada Allah hidayah dan afiat untuk kita dan mereka dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.

Semoga Allah mencurahkan taufiq kepada muslimin secara umum dan para penguasa khsusunya untuk selalu beramal dengan bimbingan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Berhukum dengan syarat-Nya di segala keadaan secara umum ataupun khusus. Dan agar Dia selalu membimbing mereka kepada apa yang menjadikan keselamatan mereka di dunia dan akirat. Menjauhkan semuanya dari jalan orang-orang yang dimurkainya (Yahudi) serta jalan orang-orang yang sesat (Nasrani). Sesungguhnya Allah adalah pelindung atasnya dan berkuasa untuk itu. Shalawat dan salam semoga tercurah atas Muhammad dan para keluarga serta shahabatnya semuanya.

Wassalamu’alikum warohmatullahi wabarokatuh

Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi dan Ketua Lembaga Riset dan Fatwa
 


Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 

Meraih Ampunan Alloh

Filed under: Hadits - Anik Arrifai @ 2:52 pm

Diterjemahkan Oleh: Abu Fatah Amrulloh dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 42 Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

Dan dari Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shalallohu ‚alaihi wa sallam bersabda: “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula. (HR Tirmidzi, beliau berkata: “hadits ini hasan”) Wallohu a’lam, semoga sholawat tercurah pada nabi Muhammad.

Penjelasan:
Dari Anas radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Saya mendengar Rosululloh ¬shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,’ Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Yang dimaksud [“Anak Adam”] pada perkataan ini adalah seorang muslim yang mengikuti risalah rosul yang diutus kepadanya. Maka orang-orang yang mengikuti risalah nabi Musa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Orang-orang yang mengikuti risalah nabi Isa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia juga termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Adapun setelah diutusnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mendapatkan balasan dan keutamaan seperti yang disebutkan dalam hadits ini adalah mereka yang mengikuti Al Musthofa (Nabi Muhammad) shalallahu ‘alaihi wa sallam, beriman bahwa risalah yang beliau bawa adalah penutup risalah para nabi, mengakui kenabian dan risalah yang beliau bawa dan mengikuti petunjuk beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: [Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Kalimat ini memiliki makna yang serupa dengan firman Alloh jalla wa ‘ala:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az Zumar: 53)

Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian segera bertaubat, berdoa kepada Alloh jalla wa ‘ala agar Ia mengampuninya serta mengharapkan ampunan-Nya, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya selama dia bertaubat karena “Taubat itu menghapus dosa-dosa sebelumnya”.

Kemudian Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: “sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku”. Kalimat ini menjelaskan bahwa doa disertai dengan harapan akan menyebabkan Alloh mengabulkan permohonan ampun. Ada sebagian orang yang berdoa pada Robb-Nya dengan harapan yang lemah dan tidak berhusnuzhon pada Robb-Nya padahal Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku maka hendaklah berprasangka pada-Ku sebagaimana dia kehendaki”. Jika seorang hamba berdoa untuk memohon ampun atas segala dosa-dosanya maka hendaknya dia berdoa untuk memohon ampun pada Alloh dengan berkeyakinan bahwa Alloh memiliki kemurahan yang sangat besar dan dia berharap bahwa Alloh akan mengampuni dosa-dosanya. Orang yang melakukan hal ini, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosanya.

Maka jika seseorang telah memiliki rasa harap yang sangat besar pada Alloh dan yakin bahwa Alloh akan mengampuninya niscaya dia akan mendapatkan apa yang ia cari. Hal tersebut dikarenakan besarnya rasa harap dan prasangka yang baik pada Alloh. Banyak ibadah-ibadah hati (ibadah qolbiyyah) yang harus dilakukan oleh seorang pelaku dosa ketika memohon ampun dan bertaubat. Banyak ibadah-ibadah hati yang harus dilakukan agar perbuatan dosa diampuni sebagai karunia dan kemuliaan dari Alloh jalla wa ‘ala.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “niscaya Aku akan mengampunimu”. Pengampunan (المغفرة) memiliki makna menutup bekas-bekas dosa di dunia dan akhirat. Pengampunan tidak sama dengan menerima taubat, karena pengampunan memiliki makna menutup (ستر). Mengampuni sesuatu (غفر الشيء) memiliki makna menutup sesuatu (ستره). Menutup dosa-dosa memiliki makna bahwa Alloh jalla wa ‘ala akan menutup dampak-dampak dosa di dunia dan akhirat. dampak dosa di dunia adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di dunia, sedangkan dampak dosa di akhirat adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di akhirat. Barang siapa yang memohon ampun pada Alloh jalla wa ‘ala maka dia akan diampuni oleh Alloh. Barang siapa yang meminta pada Alloh agar Ia menutupi dampak dosanya di dunia dan akhirat maka Alloh akan menutupinya. Alloh akan menutup dampak dosa-dosanya dengan tidak memberikan balasan atas dosanya di dunia dan akhirat.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit]. Dosa tersebut memenuhi langit (awan yang tinggi) karena jumlahnya yang banyak dan bertumpuk-tumpuk.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [kemudian engkau memohon ampun pada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Perbuatan ini adalah perbuatan seorang hamba yang bertaubat dan mencintai Robbnya dengan kecintaan yang mendalam. Karena Alloh -Yang Maha Agung, Yang Memiliki nama dan sifat yang mulia, indah dan sempurna, yang menguasai seluruh kerajaan, Dialah yang menguasai dan melindungi segala sesuatu, yang memiliki berbagai macam nama dan sifat yang agung dan mulia- akan mencintai hambanya dengan kecintaan seperti ini. Maka tidak diragukan lagi, hal ini akan membuat hati mencintai Robbnya, merasa hina di hadapan-Nya dan mendahulukan ridho-Nya daripada ridho selain-Nya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Dalam kalimat ini terdapat dorongan untuk senantiasa memohon ampunan. Jika engkau berbuat dosa maka beristigfarlah karena sesungguhnya tidak cukup istigfar kita walaupun dilakukan sebanyak 70 kali dalam setiap hari seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits. Dengan beristigfar dan menyesal maka Alloh akan mengampuni segala dosa.

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula]. Jika anak Adam datang dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menjumpai Alloh dalam keadaan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya baik syirik besar, syirik kecil maupun syirik yang tersembunyi, hatinya ikhlas hanya kepada Alloh, tidak ada pada hatinya kecuali Alloh dan tidak merasa cemas kecuali hanya kepada-Nya, tidak berharap kecuali hanya kepada-Nya, tidak berbuat syirik dalam bentuk apapun pada-Nya, niscaya Alloh jalla wa ‘ala akan mengampuni seluruh dosa-dosanya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula”. Hal ini menunjukkan kebaikan dan besarnya rahmat Alloh pada para hamba-Nya.

Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nama-nama dan sifat-Mu. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat syariat Islam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat diutusnya nabi-Mu Muhammad ‘alaihi sholatu wa sallam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah yang engkau berikan pada kami untuk mengikuti jalan para salafushalih. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah-Mu pada kami berupa ampunan untuk segala dosa, menunjukkan pada perbuatan baik, dan mengampuni segala kesalahan. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat-Mu yang Agung. Ya Alloh segala puji bagi-Mu dan engkaulah yang paling berhak untuk mendapatkan seluruh pujian.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King